Minggu, 02 Januari 2011

Hutan Penghasil Emisi Besar di Indonesia

Hutan dan lahan gambut merupakan penghasil gas emisi terbesar di Indonesia, menyuplai 56% dari carbon emitter nasional.

"Jika dilihat dari profil emisi Indonesia, yang paling besar memberikan kontribusi adalah sektor kehutanan dan lahan gambut," kata Ketua Kelompok Kerja Alih Guna Lahan dan Kehutanan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Doddy S Sukadri, di Ambon, Selasa (28/12).

Ia mengatakan, berdasarkan analisis dan penelitian yang dilakukan DNPI, sektor kehutanan dan lahan gambut masih akan tetap menjadi penyuplai terbesar gas emisi di Indonesia, bahkan hingga 2030.

"Sekitar 80-85 persen emisi nasional tahun 2005 dihasilkan oleh hutan dan lahan gambut," katanya.

Sukadri menjelaskan, dalam konteks perubahan iklim, hutan memiliki tiga peranan penting yang harus dipertahankan, yakni sebagai penyerap karbon (carbon removal), penyimpan karbon (carbon zinc), dan penghasil karbon (carbon emitter) terutama saat terbakar atau tutupannya berkurang akibat penebangan secara liar.

"Hutan berperan penting untuk menstabilkan emisi, kalau tutupan hutan berkurang, otomatis kapasitas penyerapan karbonnya juga sedikit," ujarnya.

Ia menyatakan, sektor kehutanan dan lahan gambut harus bekerja keras untuk menurunkan sedikitnya 14 persen gas emisi dari 26 persen tiap tahunnya, seperti yang telah dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui program Reducing Emission From Revolution and Forest Degradation (REDD).

"Kalau 26 persen tiap tahunnya, berarti sektor kehutanan dan lahan gambut harus menurunkan sedikitnya 14% atau 56% dari emisi nasional yang ada," kata Sukadri.

Ia juga mengatakan, apabila konsentrasi oksigen di atmosfer lebih 454 per milion yang diakibatkan oleh gas emisi, temperatur suhu udara akan naik melebihi dua derajat celcius.

"Sektor transportasi, energi, pertanian, limbah dan sebagainya juga menghasilkan emisi, tapi di Indonesia yang paling banyak berasal dari hutan dan lahan gambut," katanya.

sumber : media indonesia.com

Ekosistem Hutan Tropik Krakatau Tanpa Campur Tangan Manusia

Sejak meletus pada 1883,Gunung Krakatau kini menjadi satu-satunya laboratorium alam yang mencerminkan pembentukan ekosistem hutan tropik tanpa campur tangan manusia.

Pakar ekologi LIPI Dr. Tukirin Partomihardjo mengatakan hal itu pada orasi ilmiahnya berjudul Laboratorium Alam Kepulauan Krakatau: dari Model Suksesi ke Restorasi Ekosistem Hutan Tropik saat pengukuhannya sebagai Profesor Riset di Jakarta, Rabu (29/12).

"Letusan yang melenyapkan segala bentuk kehidupan itu telah mengantar gugusan pulau kecil di sana menjadi tempat paling ideal untuk mempelajari tahapan pembentukan ekosistem pulau dan komunitas hutan tropik sejak awal," kata Tukirin.

Proses kolonisasi pada bentang alam pulau, ujar dia, umumnya dimulai dari daerah pantai dimana jenis-jenis pelopor yang merajai tahap awal terdiri atas jenis-jenis yang memiliki kemampuan memencar dan menetap dengan baik.

Kondisi fisik lingkungan pulau-pulau di gugusan Krakatau pada periode awal letusan 1883 yang dipenuhi endapan abu dan pasir sangat labil. Namun timbunan pasir merupakan tempat ideal untuk mengawali proses suksesi baik flora maupun fauna.

"Tahapan pembentukan komunitas hutan alam beserta fungsi ekosistemnya (suksesi) dan proses kolonisasi pembentukan ekosistem hutan tropik yang berasal dari kondisi steril telah ditunjukkan di Kepulauan Krakatau," katanya.

Beberapa tahun pertama sekelompok jenis tumbuhan pionir yang terdampar berkembang mengawali kehidupan di wilayah pesisir. Jenis-jenis tersebut kebanyakan memiliki sifat biologi sangat unggul.

sumber : media indonesia.com

Freeport Kembali Lepasliarkan Ribuan Kura-Kura Moncong Babi

Dok MI/as

PT Freeport Indonesia (PTFI) yang melakukan penambangan tembaga, emas, dan perak di wilayah Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, kembali melepasliarkan kura-kura moncong babi (Carettochelys insclupta).

Juru Bicara PT Freeport Indonesia, Ramdani Sirait, Minggu (2/1), mengatakan keterlibatan PTFI di bidang penyelamatan satwa langka di Tanah Papua selama tahun 2010 dengan terus-menerus memprakarsai usaha penyelamatan hewan langka melalui usaha
melepasliarkan satwa langka itu ke habitatnya di Tanah Papua.

Ia menjelaskan, usaha melepasliarkan hewan langka itu tidak hanya dilakukan PTFI pada tahun 2010, tetapi pada 28 Agustus 2006, PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan Jaringan Pusat Penyelamatan Satwa (JPPS) Cikananga, Sukabumi, Jawa Barat dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan telah memulangkan sedikitnya 2.930 ekor kura-kura moncong babi.

"Satwa langka yang dilindungi itu diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Timika, Papua, dengan menggunakan pesawat kargo yang difasilitasi PT Freeport Indonesia," katanya.

Kura-kura yang dipulangkan adalah satwa yang disita di sejumlah tempat, termasuk di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Juanda Surabaya, setelah diselundupkan keluar Papua.

Sebelumnya, kura-kura itu direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa Yogyakarta dan Sukabumi selama enam bulan hingga delapan bulan.

Pada 24 Februari 2009 juga telah dilepasliarkan sebanyak 10.865 ekor labi-labi moncong babi di sungai Mawati dan Otakwa, Distrik Mimika Timur Jauh, Mimika, Papua yang merupakan hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Seksi Konservasi Wilayah II Timika dan Polres Mimika.

Sebelum dilepasliarkan ke alam, seluruh labi-labi tersebut dipelihara sementara oleh Departemen Lingkungan PT Freeport Indonesia di kolam-kolam yang disediakan di Pusat Reklamasi PT Freeport Indonesia di Mile Pos 21, di dalam wilayah kerja PTFI.

"PT Freeport Indonesia selalu berpartisipasi dalam program pelestarian keanekaragaman hayati Papua, termasuk upaya pengembalian satwa-satwa endemik Papua yang diselundupkan keluar Papua," kata Ramdani yang saat ini dipercaya memimpin Corporate Communications Department PT Freeport Indonesia itu.

Selain labi-labi moncong babi, PT Freeport Indonesia juga pernah ikut serta dalam pemulangan Kangguru Tanah atau Walabi dari Jakarta ke Papua, kemudian dilepasliarkan di Taman Nasional Wasur di Merauke yang saat ini telah berkembang biak.

Pada Kamis (30/12/2010) lalu, sebanyak 10.908 kura-kura jenis moncong babi yang disita dari seorang penadah di Kamoro Jaya-SP1 Timika kembali dilepasliarkan ke habitatnya di sekitar Muara Sungai Wania, Pelabuhan Paumako, Distrik Mimika Timur.

sumber : media indonesia.com

Seven Summits 2 Sukses Taklukkan Puncak Aconcagua

Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia (Seven Summits) dua yang diikuti tiga orang pendaki sukses mencapai Puncak Aconcagua (6.962mdpl) pukul 16.00, Minggu (2/1) waktu Argentina.

Tiga orang pendaki yang sukses mencapai puncak tertinggi di Amerika Latin itu adalah Nurhuda, Iwan Irawan dan Popo Nurrakhman (Metro TV). Mereka menyusul kesuksesan tiga rekan sebelumnya yaitu Ardeshir Yaftebbi, Fajri Al Luthfi dan Martin Rimbawan.

"Ketiga saat ini masih berada di sekitar puncak dan mereka akan segera turun menujuk Camp 3 Colera diketinggian 5.950 mdpl," kata Ketua Pendakian Ardeshir Yaftebbi dalam laporannya ke Sekretariat Seven Summits di Jakarta, Senin (3/1).

Menurut dia, kondisi ketiga pendaki dalam keadaan sehat. Sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, mereka akan turun ke Camp 3 Colera, besok (Senin 3/1) waktu Argentina.

Selanjutnya, semua pendaki yang telah sukses mencapai puncak tertinggi di Amerika Latin itu akan turun ke Camp 2 Plaza de Mulas diketinggian 4.300 mdpl.

Di Camp 2, mereka akan bermalam dan satu hari berikutnya, Selasa (4/1) waktu Argentina akan turun dan bergabung dengan tim yang lain, yang telah menunggu di Puente del Inca. Selanjutnya seluruh tim akan bergeser ke Mendoza.

"Terima kasih sebesar-besarnya pada seluruh saudaraku yang turut mendoakan keberhasilan ekspedisi ini. Mohon terus dukungannya sampai kami tiba kembali di Tanah air tanggal 10 Jan nanti," kata Ardeshir menambahkan.

Dengan berakhirnya misi pendakian ke Aconcagua, maka hanya ada lima pendaki inti yang sukses mencapai puncak. Satu pendaki inti dan satu-satunya pendaki perempuan yaitu Gina Afriani gagal mencapai puncak karena tidak lolos tes kesehatan.

Pendakian ke puncak Aconcagua adalah yang terberat bagi tim yang didukung oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga ini. Setelah sebelumnya keenam pendaki berhasil mengibarkan Merah Putih di puncak Ndugu-Ndugu (Austronesia), Kilimanjaro (Afrika) dan Elbrus (Rusia)
sepanjang 2010 lalu.

Dalam rangkaian pendakian ke tujuh puncak tertinggi di tujuh benua, tim Seven Summits Expedition masih harus melakukan pendakian ke McKinley, puncak tertinggi Amerika Utara, Vinson Massif sebagai puncak tertinggi di Antartika, dan terakhir, Everest, sebagai gunung tertinggi di dunia.

sumber : media indonesia.com

KONSERVASI Database Tumbuhan Dunia Ada di Sini

shutterstock
Database tumbuhan tersebut bisa diakses di www.theplantlist.org yang memuat 1,25 juta nama tumbuhan di dunia.

Ahli botani asal Amerika Serikat dan Inggris, Rabu (29/12/10) kemarin, meresmikan pembuatan database tumbuhan terlengkap di dunia. Databse tersebut dibuat untuk membantu program para ahli konservasi, pembuat obat dan peneliti pertanian. Database ini bisa untuk merencanakan konservasi, mencari manfaat ekonomi dari tanaman dan lainnya.
-- Peter wyse Jackson
Database yang bisa diakses di www.theplantlist.org tersebut memuat 1,25 juta nama tumbuhan. Data-data tanaman pertanian seperti gandum dan padi hingga tanaman hias seperti bunga mawar dan paku-pakuan liar ada di sini.
Secara spesifik, data tersebut dibuat untuk membuat penamaan tanaman lebih akurat. Menurut para ilmuwan, tanpa keakuratan nama tumbuhan, pembicaraan tentang kehidupan tumbuhan bisa membingungkan dan menghabiskan waktu.
Proyek pembuatan database ini melibatkan Kew Garden oyal Boyanic Garden di London dan Missouri Botanical Garden di St. Louis. Peter wyse Jackson, Presiden Missouri Botanical Garden mengatakan, "Langkah ini adalah sebuah kemajuan".
"Data ini untuk pertama kalinya memberikan daftar tanaman yang ada di planet ini dan bisa digunakan untuk banyak kebutuhan. Bisa untuk merencanakan konservasi, mencari manfaat ekonomi dari tanaman dan lainnya," tandas Jackson.
Dari 1,25 juta nama dalam database itu, 1,04 juta di antaranya adalah nama spesies. Sementara sisanya merupakan nama "infraspesific" atau nama-nama untuk tingkat varietas atau subspesies.
Pada database ini, nama tumbuhan terpanjang adalah Ornithogalum adseptentrionesvergentulum, yang merupakan nama spesies mencakup tanaman Bintang Natal. Sementara, nama terpendek adalah Poa fax, yaitu nama bunga berwarna ungu dari Australia.
Tercatat, hanya 300.000 nama spesies yang diterima sebagai istilah standar. Sementara 480.000 lainnya merupakan sinonim dari nama lainnya. Sisanya, kurang lebih 260.000 nama masih belum tersepakati.
Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), 1 dari 5 spesies tumbuhan saat ini terancam punah. Upaya konservasi sangat membutuhkan database yang lengkap. Database tumbuhan ini ditargetkan akan selesai pada 2020.

sumber : DISCOVERY

Daftar 10 Spesies Baru Paling Top 2010..

shutterstock
ILUSTRASI: Salah satu jejaring Laba-laba Darwin ditemukan membentang selebar 25 meter di sebuah sungai di Madagascar.

Begitu banyak spesies yang ditemukan di dunia selama tahun 2010 ini. Tak disangka, dalam 10 daftar spesies paling top versi Majalah Times itu, kebanyakan spesies baru berasal dari Papua Nugini, tetangga dekat Indonesia. Ini dia daftarnya:

1. Katak Berparuh
Katak ini ditemukan oleh tim Conservation International di wilayah hutan Kolumbia. Memiliki ukuran hanya 2 cm, katak ini dengan mudah menghindar dari serangan predator. Spesies ini merupakan salah satu jenis katak yang berkembang tanpa melewati masa metamorfosis sebagai berudu.

2. Laba-laba Darwin
Laba-laba ini ditemukan para ilmuwan di wilayah Madagascar. Sutra yang diproduksi laba-laba ini diketahui merupakan yang terkuat sehingga mampu memproduksi jejaring yang bagus. Salah satu jejaring laba-laba ini ditemukan membentang selebar 25 meter di sebuah sungai di Madagascar.

3. Semut Pohon Dataran Tinggi
Hewan ini adalah satu di antara 200 spesies yang ditemukan di Papua Nugini. Habitat semut pohon ini adalah sebuah wilayah yang terletak di 2,9 kilometer di atas permukaan laut. Untuk menyesuaikan diri, semut memiliki metabolisme lambat dan rahang yang selalu terbuka 180 derajat untuk memudahkan mendapatkan makanan.

4. Tonggeret Mossula
Spesies lain dari Papua Nugini yang masuk dalam 10 spesies paling top adalah Tonggeret Mossula. Spesies ini memiliki badan yang berwarna hijau serta mata berwarna pink. Kaki belakangnya berukuran besar dan berujung seperti duri. Ketika lawan hendak menyerang, kaki belakangnya digunakan untuk menyerang balik dan menusuk mangsa.

5. Katak Pohon Seukuran Kacang
Katak kecil yang berukuran hanya sebesar kacang ini ditemukan oleh ilmuwan asal Malaysia dan Jerman di hutan Borneo. Para ilmuwan mengatakan, katak ini merupakan jenis katak terkecil yang pernah ditemui. Meski demikian, suara yang dihasilkannya tak kalah keras dengan katak lain.

6. Katak Gelas Ekuador
Mengapa disebut Katak Gelas? Para ilmuwan mengatakan, hal itu disebabkan karena kulitnya yang transparan. Detak jantung katak ini bisa terlihat dengan jelas. Ilmuwan mengemukakan, spesies ini merupakan satu di antara 150 jenis katak gelas yang terdapat di Amerika Tengah dan Selatan.

7. Tikus Raksasa Berbulu Tebal
Tikus ini ditemukan di wilayah Papua Nugini. Lain dengan tikus kota yang takut menghadapi manusia, perangai tikus ini malah tampak bisa-biasa saja. Ilmuwan mengatakan, ukuran tikus ini hampir sebesar kucing.

8. Kelelawar Pemakan Buah Berhidung Tabung
Kelelawar ini biasa disebut Yoda. Dipanggil kelelawar berhidung tabung sebab bentuk hidungnya memang seperti tabung. Kotoran kelelawar ini adalah biji buah yang dimakannya, karenanya kelelawar ini sangat berguna bagi lingkungan untuk menyebarkan biji.

9. Tarantula Bergigi Biru
Tarantula ini ditemukan di wilayah Guyana, Perancis. Memiliki panjang 1 hingga 3 inchi, tarantula jenis ini memiliki gigi berwarna biru.

10. Pinguin Purba
Tak semua spesies yang ditemukan masih bisa dilihat keberadaannya, salah satunya adalah Pinguin Purba ini. Tak seperti pinguin saat ini yang memiliki bulu-bulu indah, Pinguin Purba memiliki warna bulu yang standar. Namun, tinggi pinguin ini hampir dua kali tinggi Pinguin Emperor masa kini.

sumber : The Times

Ada Hiu yang Bisa Jalan

icha rastika
Inilah Hiu berjalan atau "Hemiscyllium galei", salah satu spesies baru yang ditemukan dalam penelitian di perairan Raja Ampat, Papua Barat. Penemuan spesies baru itu diperkenalkan di LIPI, Jakarta, Senin (19/4/2010).

Tahukan Anda, Indonesia memiliki spesies ikan hiu yang biasa berjalan di dasar lautan? Hiu yang bernama latin Hemiscyllium galei dan Hemiscyllium henryi tersebut dijuluki walking shark (hiu berjalan) yang ditemukan di perairan Raja Ampat, Kawasan Kepala Burung Papua Barat. "Uniknya, dia berjalan di dasar laut dengan siripnya, nggak berenang," kata Fahmi, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang lama meneliti jenis hiu dan pari, di Pusat Penelitian Oceanografi LIPI, Jakarta, Senin (19/4/2010).

Ukuran tubuh walking shark sedikit lebih kecil dari ukuran tubuh hiu pada umumnya. Warna tubuhnya pun menarik dengan tutul-tutul kecoklatan seperti tokek atau gecko. Corak pada tubuh jenis walking shark, menurut Fahmi, akan berubah seiring pertambahan usia.

"Warna pasti berubah, tapi pola dasarnya sama," ujarnya. Pola dasar warna tubuh tersebutlah yang kemudian membedakan spesises Hemiscyllium galei dengan Hemiscyllium henryi. Selain itu, ukuran tubuh Hemiscyllium galei juga tampak lebih besar dibanding Hemiscyllium henryi. Karena walking shark berjalan di dasar lautan, Fahmi menyampaikan, maka mereka hanya memakan hewan-hewan kecil dasar laut seperti kerang.

Bentuk gigi mereka juga berbeda dengan gigi hiu pemakan ikan pada umumnya. "Gigi mereka nggak runcing, tampak seperti gigi lele, untuk memecah cangkang," ujar Fahmi.
Kedua jenis hiu berjalan tersebut termasuk dalam 11 spesies biota laut baru yang ditemukan di perairan Raja Ampat, dan diperkenalkan LIPI hari ini. Mengenai kemungkinan ditemukannya kedua spesies tersebut di perairan lain, Fahmi menjawab, "Kecil ya, karena dia berjalan, jadi penyebarannya nggak jauh, cenderung endemik. Paling yang banyak satu familinya, tapi beda marga. Adanya kebanyakan di Indonesia timur," tuturnya.
Untuk diketahui, peneliti biota laut Conservation International bekerjasama dengan LIPI menemukan 11 biota laut baru. Kesebelas biota laut tersebut diberi nama sesuai dengan keinginan pemenang lelang "Blue Auction" di Monaco. Hasil lelang akan digunakan untuk mendidik calon taksonom Indonesia yang masih minim jumlahnya.

sumber : Kompas.com