Selasa, 18 Januari 2011

Tips Mengobati Gigitan Ular

Di suatu pagi Minggu, aku mendapat tugas untuk mencatat pernikahan di sebuah desa terpencil di pinggir hutan, dekat perbatasan dengan kabupaten tetangga. Jarak dari rumahku dengan desa itu tentu lumayan jauh, sekitar 25 km. Dengan melewati jalan lengang yang diapit oleh deretan kayu jati, aku berangkat mengendarai motor ditemani seorang saudara.
Seusai melaksanakan tugas, aku mengunjungi seorang kerabat yang sudah lama tak bersua. Dengan bertanya sana-sini, akhirnya kami menemukan juga rumahnya yang sangat sederhana. Kami pun terlibat obrolan hangat. Tak sengaja, sang kerabat itu keceplosan mengatakan bahwa ia juga menekuni profesi sebagai pawang ular. Kami tentu saja kaget, karena selama ini ia tak pernah bercerita kalau juga menekuni profesi pawang ular. Selama ini, kami mengetahuinya hanya sebagai petani dan pencari kayu di hutan. Tak ayal, kami langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan terkait profesinya yang langka itu. Dari obrolan hangat itulah, akhirnya ia membuka rahasia mengobati gigitan ular. Berikut ini tips yang diberikan oleh sang pawang ular yang bernama Surjana itu.
Sebelum mengobati sang korban, harus ditanyakan dulu kapan ia digigit. Jika ia digigit pada jam 10.00 pagi hingga jam 12.00 siang, atau di sore hari menjelang maghrib, maka kemungkinan besar ia bisa mengalami resiko besar akibat gigitan ular tersebut. Hal itu karena pada jam-jam tersebut, ular biasanya sedang dalam kondisi lapar dan marah. Racun bisa yang ada di tubuh ular akan keluar saat menggigit sang korban. Namun jika, di luar jam-jam tersebut, korban akan relatif aman, karena racun bisa kemungkinan besar tidak dikeluarkan semua oleh sang ular.
Ada beberapa cara untuk mengobati gigitan ular, tergantung tingkat parah atau tidaknya gigitan.
1. Ambil sesendok minyak tanah dan sesendok minyak goreng, lantas suruh korban meminumnya. Minyak tanah dan minyak goreng berfungsi untuk menjadi tameng bagi jantung dan organ-organ penting dalam tubuh dari serangan racun bisa ular. Racun bisa tidak akan mampu menyerang jika tubuh diberi kedua cairan tersebut.
2. Ambil segenggam garam dan masukkan ke dalam air dalam sebuah gelas besar. Aduk air garam tersebut secukupnya. Buang ampas garam yang mengendap di dasar gelas. Terus air garam tersebut diminumkan kepada sang korban. Seperti halnya minyak tanah dan minyak goreng, air garam juga berfungsi sebagai anti toxin yang bisa melindungi jantung dan organ vital dari serangan racun bisa ular.
3. Jika korban digigit pada jam-jam berbahaya yang sudah dijelaskan di atas, maka cara yang cukup ampuh adalah dengan cara setrum. Dengan menggunakan accu kecil yang tidak berdaya listrik tinggi, tempelkan saja kabel negatif (-) dan positif (+) ke bekas gigitan. Awas, jangan sampai daerah yang bukan gigitan ikut tersetrum. Saat proses setrum berlangsung dan racun bisa disedot oleh listrik, sang korban tidak akan mengalami rasa sakit, paling akan merasa sedikit hangat. Jika bisa sudah habis disedot oleh listrik, korban pun akan merasa kesakitan. Saat itulah, proses setrum dihentikan segera agar tidak membahayakan korban.
4. Jika gigitan sudah terjadi lama dan sudah menimbulkan borok, maka cara yang digunakan adalah dengan proses pembakaran. Ambil tanah liat basah dan tempelkan ke daerah sekeliling bekas gigitan. Hal ini untuk melindungi daerah yang tidak terkena gigitan ular. Jika sekeliling daerah gigitan sudah terlindungi oleh tanah liat, baru kemudian dilakukan proses pembakaran. Ambil bara api secukupnya dan letakkan ke daerah gigitan. Jika bara api padam, nyalakan kembali. Saat racun bisa belum tuntas disedot oleh api, korban tidak akan mengalami rasa sakit atau panas. Namun jika sudah mulai terasa proses penyedotan berlangsung, korban akan mulai mengalami rasa hangat. Ketika racun bisa sudah habis tersedot, korban pun akan langsung merasa kepanasan. Saat itulah, proses pembakaran dihentikan.
Terkadang cara pembakaran ini harus memakan waktu dua hari. Hal itu terjadi karena gigitan yang sudah cukup lama, sehingga proses penyedotan tidak langsung selesai satu kali. Jadi, hari pertama dilakukan proses pembakaran. Keesokan harinya, hal pembakaran dilakukan kembali, sampai pasien betul-betul merasakan sakit sebagai pertanda bahwa racun bisa sudah habis tuntas disedot.
Demikian tips yang diberikan oleh Surjana, sang pawang ular. Silaturahmi yang kami lakukan ternyata tidak sia-sia. Ada tips berharga yang bisa kami bawa pulang Mudah-mudahan tips ini bermanfaat.

sumber : http://racheedus.wordpress.com/2010/03/31/tips-mengobati-gigitan-ular/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar